Manipulasi Syi’ah Terhadap Sejarah dan Kedustaan Mereka
Feb19

Manipulasi Syi’ah Terhadap Sejarah dan Kedustaan Mereka

1. Penolakan mereka terhadap Hadits-hadits Riwayat Ahlus Sunnah.

Al-Qur’an tidaklah berdiri sendiri. Ia tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan bantuan hadits-hadits Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadits adalah sumber kedua dalam Islam dan berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Qur’an. Siapa yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur’an dan tidak merujuk kepada hadits, maka tidak diragukan lagi ia telah sesat sejauh-jauhnya.

Para ulama telah bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah saw tersebut dan membukukannya. Dengan itulah Allah swt menjaga Sunnah Rasul-Nya sebagaimana dia telah menjaga al-Qur’an yang mulia. Kedua-duanya dijaga oleh Allah swt agar agama-Nya tetap sempurna dan hujjah-Nya tetap tegak.

Tetapi Syi’ah tidak mengakui dan tidak menerima Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Kitab-kitan Sunan lainnya karena para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits di dalam kitab-kitab tersebut tidak mereka percayai bahkan mereka kafirkan .

2. Hadits-hadits Mereka Tidak Dapat Diterima dan Penuh Kedustaan.

Syi’ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi saw. kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait.

Mereka tidak memperhatikan ke shohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi’ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai.

a. Tentang tafsir Surah an-Nisa’ ayat 59 yang berbunyi:

“Hai Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikin itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).

Khazzaz (seorang ulama Syi’ah) dalam kifayat al-Atsar-Nya menafsirkan makna ulil amri pada ayat di atas dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Anshori r.a.

Ketika ayat tersebut diturunkan Jabir bertanya kepada Nabi saw, “Kami tahu Allah dan Nabi namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya telah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi saw bersabda, “Mereka para Kholifahku dan Imam bagi kaum muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali kemudian Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat.

Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) Oleh putranya Ja’far Shodiq, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan sama dengan julukanku. Dialah bukti Allah (hujjatullah) dimuka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyyatullah) untuk memelihara akar keimanan diantara manusia. Dia akan menaklukan seluruh dunia dari timur hingga barat

Sumber: buku dari Zaenudin

Read More

Pin It on Pinterest