Kamera CCTV di Hack Sebelum Pelantikan Presiden Donald Trump
Feb02

Kamera CCTV di Hack Sebelum Pelantikan Presiden Donald Trump

Departemen kepolisian Washington DC mengidentifikasi bahwa kamera CCTV di hack sebelum pelantikan oleh serangan ransomware. Hal ini masih meninggalkan pertanyaan yang berlum terjawab.



Serangan Ransomware Mematikan 123 Kamera CCTV di Washington DC

Polisi DC pertama kali melihat masalah dengan empat kamera pada 12 Januari – delapan hari sebelum pelantikan – dan melaporkan masalah ke Kantor Chief Technology Officer (OCTO). Para pejabat mengatakan kepada The Washington Post bahwa ransomware telah mematikan 123 dati 187 kamera CCTV di jaringan kota. Kamera CCTV yang diretas mati selama 3 hari dan menyala lagi pada 15 Januari.

Archana Vemulapalli, Chief Technology Officer (CTO) untuk Kota Washington DC, mengatakan kota tidak membayar uang tebusan. Sebaliknya, pekerja OCTO pergi ke setiap kamera CCTV – yang diselenggarakan sebanyak empat kamera masing-masing – dan selesaikan masalah dengan mengambil perangkat offline, menghapus semua perangkat lunak dan restart sistem.

Vemulapalli mengatakan kepada Washington Post bahwa serangan itu terbatas pada sistem CCTV dan Brian Ebert, seorang pejabat Secret Service, mengatakan keselamatan publik tidak dalam bahaya.

Masih ada pertanyaan kunci yang belum terjawab tentang serangan ransomware ini. Kamera CCTV yang diretas meliputi ruang publik di sekitar DC, tetapi tidak jelas apakah mereka adalah kamera yang digunakan untuk memantau lalu lintas atau kamera digunakan untuk alasan pengawasan lainnya. Tujuan dari kamera yang terlibat bisa menjadi penting karena juga jelas apakah data yang tercatat dari kamera CCTV yang diretas itu exfiltrated atau hilang ketika sistem di restart.

Para pejabat telah menolak untuk menyatakan bagaimana penyerang mampu melancarkan serangan ransomware yang berdampak pada pengoperasian kamera CCTV yang diretas atau sistem yang mengontrol mereka. Dan masih belum jelas bagaimana jaringan situs CCTV bekerja.
Octo, AS Secret Service dan Departemen Kepolisian Washington DC masih tidak menanggapi pertanyaan tersebut.

Mengenal Serangan Ransomware

Merupakan aksi serangan cyber yang berdampak pada penguncian sistem. Biasanya pelaku ransomware akan meminta uang tebusan. Kepala Teknologi di Washington DC menyatakan tidak ada permintaan tebusan, akan tetapi petugas mereka mengganti satu persatu kamera tersebut.

Ransomware “ditanam” kedalam sistem bisa dalam bentuk pembaruan aplikasi dan sebagainya. Ketika sebuah sistem terkena ransomware, maka seluruh akses termasuk ke akses data tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki cadangan / back up data bukan ?

Sebuah serangan ransomware terbaru bernama CryptoWall telah menghasilkan sekitar Rp. 4.6 Triliun menurut riset Palo Alto Networks. Kita bisa bayangkan kemudian di era Fintech ini jika serangan Ransomware semakin meningkat. Maka akan banyak aplikasi Fintech dan layanan perbankan yang akan terhenti selama beberapa hari. Sementara terhentinya layanan publik dan operasional pada sebuah perusahaan, pelanggan akan berpindah ke perusahaan lain yang lebih lancar untuk transaksi perbankan.

Solusi pencegahan dari kondisi tersebut adalah menggunakan solusi disaster recovery. Jika terjadi serangan apapun (termasuk ransomware) maka sistem dapat beralih ke situs cadangan, demikian data tetap aman. Setelah itu, perusahaan dapat melakukan penanganan terhadap akses ransomware tersebut.

Tentunya, para nasabah online banking tidak akan mau menerima alasan “Maaf sistem kami sedang down, habisnya ada serangan ransomware sih”. Dan jika CCTV bank serta ATM di matikan, maka bagaimana mengakses data terakhir jika tidak ada cadangan data ?

Apa pendapat rekan-rekan mengenai hal ini ? silahkan komen di bawah .. Terimakasih.

Read More

Pin It on Pinterest

Share This