Ikhlas Dalam Amal
Des25

Ikhlas Dalam Amal

ikhlas dalam beramalDunia ini pasar. Sesaat lagi tidak akan ada yang tersisa atau tetap tinggal seorang pun. Ketika malam tiba, seluruh penghuni akan meninggalkannya. Oleh karena itu, hendaklah bersungguh-sungguh, bahwa engkau tidak akan menjual dan tidak akan membeli di pasar ini kecuali apa yang bermanfaat bagi dirimu kelak di pasar akhirat. Mentauhidkan Allah Azza wa Jalla berarti meniscayakan kita untuk bersikap ikhlas dalam beramal untuk-Nya. Dialah yang “laris” di pasar akhirat. Akan tetapi, sikap ikhlas hanya ada sedikit dalam dirimu.

Wahai anakku, hendaklah engkau menjadi orang yang berakal dan jangan bersikap tergesa-gesa. Sebab, sesuatu yang terjadi pada dirimu sering disebabkan karena engkau bersikap tergesa-gesa. Engkau tidak datang pada waktu magrib dan waktu subuh. Lalu, apakah dengan sikapmu yang tidak sabar dan malah sibuk bekerja hingga waktu magrib tiba, lalu engkau bisa memperoleh apa yang engkau inginkan? Oleh karena itu, hendaklah engkau menjadi orang yang berakal, dan bersikap baik kepada Allah Azza wa Jalla dan makhluk-Nya.

Janganlah engkau berbuat aniaya kepada makhluk Allah dan menuntut dari mereka apa yang bukan menjadi hakmu.

Tidak ada komentar sehingga pernyataan datang kepada wakilnya. Pada saat itu, engkau melihat suatu pemberian sebelum ada pernyataan. Dia tidak memberi sebiji atom pun. Mereka juga tidak memberimu sebiji atom pun, tidak juga sebiji mutiara, tidak juga lautan, dan tidak juga setitik air kecuali dengan izin Allah Azza wa Jalla; dengan pernyataan-Nya; serta dengan ilham-Nya kepada hati mereka. Oleh karena itu, hendaklah engkau menjadi orang yang berakal. Akallah yang menempatkan tempatmu di hadapan Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya rezeki itu dibagi menurut kehendak dan kekuasaan-Nya.

Dengan cara apa engkau kelak menemui Allah, sementara engkau bertentangan dengan-Nya di dunia, berpaling dari diri-Nya, menghadap kepada makhluk-Nya, dan menyekutukan-Nya; engkau menyandarkan kebutuhanmu pada mereka dan dalam segala kepentingan engkau pun bersandar kepada mereka?

Padahal, merasa butuh kepada makhluk merupakan siksaan dari kebanyakan orang yang meminta. Sesungguhnya mereka tidaklah keluar  untuk meminta kecuali dengan dosanya. Yang paling sedikit diantara mereka, bahwa yang demikian itu tanpa paksaan dalam hak mereka. Jika engkau meminta sedangkan engkau di hukum, niscaya engkau terhalang untuk mendapatkan pemberian.

Wahai anakku, yang paling utama menurutku, ketika engkau lemah, engkau tidak perlu menuntut sesuatu dari seseorang, dan tidak ada sesuatu bagimu yang tidak engkau kenal dan tidak dikenal; tidak engkau lihat dan tidak terlihat.

Jika engkau mampu untuk memberi dan tidak mengambil, maka lakukanlah. Jika engkau melayani dan tidak menuntut pelayanan dari orang lain, maka lakukanlah. Ada kaum yang beramal untuk-Nya dan bersama-Nya, lalu dia memperlihatkan pada mereka;  dia memperlihatkan pada mereka kerelaan-Nya di dunia dan di akhirat; serta dia memperlihatkan kepada mereka kelembutan-Nya dan kecintaan-Nya kepada mereka.

Wahai anakku, apabila tidak ada Islam dalam dirimu, berarti tidak ada juga Iman dalam dirimu. Apabila dalam dirimu tidak ada Iman, berarti dalam dirimu tidak ada keyakinan. Apabila dalam dirimu tidak ada keyakinan, berarti dalam dirimu tidak ada makrifat kepada-Nya. Hal itu merupakan derajat dan tingkatan. Oleh karena itu, hendaklah engkau menjadi orang yang senantiasa menyerahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dalam semua keadaanmu serta tetap menyesuaikan diri dalam batas-batas syariat dan tetap di dalamnya.

Pasrahlah kepada-Nya dalam hak dirimu dan orang lain. Perbaikilah etikamu kepada-Nya serta kepada makhluk-Nya. Janganlah engkau berbuat aniaya terhadap dirimu sendiri dan orang lain. Karena perbuatan aniaya akan mengakibatkan kegelapan di dunia dan di akhirat. Perbuatan aniaya akan menyakiti hati dan memperhitam wajah. Janganlah engkau berbuat aniaya dan jangan pula engkau menolong orang yang berbuat aniaya. Sebab, Nabi saw. bersabda,

“Pada Hari Kiamat ada suatu panggilan,’Dimana orang-orang yang berbuat aniaya? di mana penolong orang aniaya? di mana orang yang membuat qalam bagi mereka? di mana orang yang menyediakan tempat tinta bagi mereka? kumpulkanlah mereka dan jadikanlah mereka dalam satu peti dari api!”.

Oleh karena itu, hendaklah engkau lari dari makhluk dan berjuanglah agar engkau tidak di aniaya  dan jangan menjadi orang yang menganiaya; jadilah yang dipaksa dan jangan menjadi yang memaksa. sebab, pertolongan Allah akan datang kepada orang yang dianiaya, terutama jika orang itu tidak mendapat pertolongan dari makhluk. Nabi saw. bersabda,

“orang yang dianiaya tidak mendapatkan pertolongan selain dari Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya Allah berfirman: pasti aku akan menolongmu walaupun telah beberapa lama.”

Sikap sabar merupakan sebab bagi munculnya pertolongan, ketinggian, dan kemuliaan.

Ya allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar selalu sabar bersama-Mu. Kami memohon kepada-Mu agar senantiasa bertakwa, merasa cukup, kosong dari segala hal, dan sibuk dengan-Mu; agar terbuka penghalang antara kami dan dirimu.

Hilangkanlah pemisah antara engkau dan Dia. Karena kebergantunganmu dengan perantara (makhluk) menandakan kekurangan akalmu. Tidak ada kekuasaan, tidak ada kekayaan, dan tidak ada kemuliaan kecuali bagi Allah Azza wa Jalla.

Kepada orang munafik, sampai kapan kau berpura-pura dan berbuat munafik kepada-Nya? sungguh engkau celaka.

Tidakkah engkau malu kepada Allah Azza Jalla dan tidakkah engkau percaya bahwa engkau akan menemui-Nya tidak lama lagi? engkau melaksanakan amal untuk Allah tetapi batinmu untuk selain Allah.

Engkau menipu-Nya dan engkau meminta pemberian-Nya. Berusahalah agar engkau tidak makan sesuap pun makanan, tidak berjalan selangkah pun, dan tidak melakukan sesuatu pun kecuali dengan niat yang baik untuk Allah Azza wa Jalla. Jika ini benar-benar kau miliki, berarti semua amal yang kau lakukan adalah untuk-Nya bukan untuk selain-Nya, dan beban dari dirimu telah hilang.

Seorang hamba Allah tidak perlu berpura-pura dalam suatu hal karena dialah yang mengurus segala. Jika Allah mengurusnya, dia akan menjadikannya kaya dan menutup pintunya dari makhluk sehingga dia tidak membutuhkan makhluk.

Oleh karena itu, kelelahan itu ada selama engkau punya banyak keinginan, punya maksud dan menempuhnya. Jika engkau telah sampai pada ujung perjalananmu, maka jadilah engkau di suatu rumah yang dekat kepada Tuhanmu, Allah Azza wa Jalla, sehingga hilanglah kepura-puraan. Oleh karena itu, tetaplah bersikap ramah kepada-Nya senantiasa dalam hatimu dan tambahlah setiap saat, sehingga kau mengambil tempat di dekat-Nya.

Pada awal hidupmu, engkau dalam keadaan kecil dan kemudian tumbuh menjadi besar, penuhilah hati dengan Allah Azza wa Jalla. lalu tidak tersisa jalan menuju  Allah Azza wa Jalla bagi selain hati dan tidak ada tempat padanya. Apabila engkau ingin mencapai hal ini, hendaklah engkau selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; serta bersikap pasrahlah kepada-Nya dalam kebaikan, keburukan, kekayaan, serta kefakiran; juga dalam kemuliaan dan kehinaan ketika telah sampai di tujuan, yang kebanyakan merupakan urusan dunia dan akhirat. Hendaklah engkau beramal untuk-Nya dan janganlah menuntut pahala sedikit pun. engkau beramal sedangkan tujuanmu adalah keridhaan dari yang menuntut amal dan dekat kepada-Nya. Jadi, pahalanya adalah keridhaan-Nya dan kedekatanmu kepada-Nya di dunia dan di akhirat. Di dunia bagimu dan di akhirat bagi pemilik hati.

Beramallah senantiasa, dan janganlah bersaing untuk harta yang sedikit atau pun harta yang banyak. Janganlah memandang amal perbuatanmu, tetapi biarkanlah anggota badanmu bergerak mengikuti untuk beramal, sementara hatimu bergerak bersama penuntut amal. Apabila hal ini telah sempurna dalam dirimu, maka akan tumbuh dalam hatimu mata untuk melihatnya. Dengan begitu maka segala makna akan menjadi gambar yang nyata dan segala yang gaib akan mewujud di hadapanmu, serta semua kabar akan kau pahami.

Jika seorang hamba telah benar-benar ihklas karena Allah, dia akan bersama-Nya dalam segala keadaan; dan Allah akan menggantikan dan memindahkannya dari satu keadaan ke keadaan yang menyeluruh. menyeluruh dalam keimanannya, keyakinan, makrifat, kedekatan, dan kesaksiannya. Jadilah siang tanpa malam; terang tanpa gelap; bersih tanpa kotor; hati tanpa nafsu; batin tanpa hati; rusak tanpa wujud; dan gaib tanpa hadir, menjadi gaib dari makhluk dan darinya.

Semua ini dasarnya adalah ramah kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga keramahan antara dirimu dan diri-Nya menjadi sempurna. Melangkah dari makhluk satu langkah. Hal demikian tidaklah akan membahayakan ataupun bermanfaat bagi mereka. Engkau telah mencobanya.

Melangkahlah dari nafsu satu langkah dan janganlah menuruti kehendaknya. Hal itu akan mengembalikan nafsu ke dalam ridha Tuhanmu, Allah Azza wa Jalla, dan engkau telah mencobanya. Jadi, makhluk dan nafsu adalah bagaikan dua lautan api, bagaikan dua lembah berbahaya. tekadkanlah niatmu dan tariklah bahaya itu, dan sesungguhnya yang demikian itu benar-benar akan terjadi. Pada yang pertama ada penyakit dan yang kedua ada obat dari Allah.

Dengan kekuasaan-Nya tiada seorang pun yang dapat memilikinya kecuali menurut kehendak-Nya.

Apabila engkau bersabar atas kefakiran, akan datang kepadamu kekayaan. Oleh karena itu, hendaklah engkau meninggalkan dunia dan mencari akhirat. Carilah kedekatan kepada Tuhan, tinggalkanlah makhluk, kemudian kembalilah kepada Khalik.

Makhluk dan Khalik tidak akan pernah berkumpul. Dunia dan akhirat di dalam hati juga tidak akan berkumpul. Tidak digambarkan, tidak sah, dan tidak ada yang datang sesuatu pun dari-Nya. Mungkin itu makhluk dan mungkin itu khalik. Mungkin itu dunia dan mungkin juga itu akhirat.

Kadang-kadang digambarkan bahwa makhluk berada dalam zhahirmu dan khalik berada dalam batinmu; dunia di tanganmu dan akhirat di hatimu. Sementara di dalam hatimu, maka keduanya tidak terkumpul. Lihatlah kedalam dirimu dan tetapkan pilihan.

Apabila engkau menginginkan dunia, maka keluarkan akhirat dari hatimu. Jika engkau menginginkan akhirat, maka keluarkan dunia dari hatimu. Jika menginginkan Tuhan, maka keluarkan dunia dan akhirat dan yang selain Dia dari hatimu. Sebab, selama dalam hatimu masih tersisa sebutir saja sesuatu selain Allah Azza wa Jalla, maka engkau tidak akan pernah mendapatkan kedekatan dengan-Nya; keranahan-Nya tidak akan mewujud untukmu, tidak pula ketenangan kepada-Nya selama dalam hatimu masih terdapat, bahkan sebutir kecil dari bagian dunia.

Engkau tidak akan melihat akhirat di hadapanmu. Selama dalam hatimu masih ada sebutir saja dari akhirat, maka engkau tidak akan mendapat kedekatan Allah Azza wa Jalla denganmu. Jadilah orang yang berakal. Engkau tidak akan datang kepada pintu-Nya kecuali dengan kaki-kaki kebenaran. Sebab, sang kritikus itu akan senantiasa melihatmu.

Celakalah, jika engkau bersembunyi dari makhluk, tetapi tidak bersembunyi dari khalik. Bagaimana engkau bisa bersembunyi? tidak lama lagi akan terbuka kedokmu di hadapan makhluk dan mereka akan mengambil upah atau uang dari saku dan rumahmu.

Orang yang meninggalkan botol kaca karena pecah, maka kelak makanannya yang ada dalam botol akan menjelaskan kabar kepadanya. Orang yang makan racun, niscaya dalam waktu dekat akan menjadi jelaslah perbuatannya secara fisik. Memakan makanan haram merupakan racun bagi jasad agamamu.

Tidak bersyukur atas nikmat merupakan racun bagi Agamamu

Dalam waktu dekat, Allah Azza wa Jalla akan menimpakan kefakiran kepada dirimu, dia akan membuatmu meminta-minta kepada makhluk, dan Allah akan menghilangkan rahmat dari sisi-Nya kepadamu. Dan orang yang melepaskan amal dari ilmunya, dalam waktu dekat ilmunya akan melupakan dirinya, dan berkahnya akan hilang dari hatinya. Sedangkan orang-orang yang bodoh, jika engkau, mengetahuinya tentu engkau akan mengetahui siksaan-Nya. Oleh karena itu, perbaikilah etikamu ketika bersama-Nya maupun ketika bersama makhluk-Nya. Kurangilah pembicaraan yang tidak berguna bagi dirimu.

Diantara orang-orang salih ada yang berkata,“Saya melihat seorang pemuda yang mengemis. Lalu saya berkata kepadanya,’jika kau bekerja, maka sesungguhnya hal itu lebih baik bagimu. engkau akan tersiksa dengan terhalangnya pahala shalat malam selama 6 bulan.”

Wahai anakku, hendaklah menyadari bahwa, dalam hal yang berarti bagimu ada kesibukan dari hal yang tidak berarti bagimu. Oleh karena itu, keluarkanlah dirimu dari hatimu, sehingga kebaikan benar-benar akan mendatangimu, karena hal itu adalah keruh dan mengeruhkan. setelah kekeruhan itu musnah, akan datang kebeningan tanpa sedikitpun kotoran. Benar-benar engkau telah mengubahnya. Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri. (QS 13: 11)

Oleh karena itu, hendaklah manusia semuanya, yakni orang-orang mukallaf (orang-orang baligh dan berakal), menyimak firman Allah di atas. Sebab, firmanNya adalah kebenaran. Ubahlah semua keadaan dalam dirimu yang kau benci sehingga menjadi keadaan yang kau sukai. Jalan itu luas. Apa yang kau miliki? bangun dan bergantunglah! beramallah dan jangan lalai selama tali dengan kedua ujungnya masih kau pegang. Hendaklah engkau meminta pertolongan kepada-Nya untuk apa yang baik bagi dirimu. Tunggangilah nafsu yang ada dalam dirimu. Kalau tidak, maka sesungguhnya nafsumu yang akan menunggangimu. Sebab nafsu senantiasa membawa pada kejahatan di dunia dan akan mencela di akhirat. Oleh karena itu, hendaklah engkau lari dari orang-orang yang menjauhkan dirimu dan dari Allah, sebagaimana halnya engkau lari atau kabur dari binatang buas.

Usahakanlah agar engkau selalu berhubungan dengan Allah, karena sesungguhnya orang yang senantiasa berhubungan dengan-Nya akan beruntung. Barang siapa yang mencintai-Nya, dia pasti akan mencintai-Nya. barangsiapa menghendaki-Nya, dia pasti akan menghendaki-Nya. Barangsiapa mendekati-Nya, dia pasti akan mendekat kepada-Nya. Barangsiapa yang mengenalkan diri kepada-Nya, dia pasti akan mengenal dirinya. Wallohua’lam bi showab. (Sumber: Syekh Abdul Qodir Jaelani)

Read More

Pin It on Pinterest