Fenomena Menarik Dari Penurunan Daya Beli Konsumen


Sejak pertengahan 2015, para pelaku bisnis di Indonesia merasakan merosotnya daya beli masyarakat. Penurunan daya beli ini terus berlanjut hingga pertengahan tahun 2017. Pemerintahan Jokowi yang berfokus pada infrastruktur, dituding beberapa pihak sebagai penyebab daya beli masyarakat yang menurun.

Sebetulnya, selain hal tersebut yang memang mungkin jadi penyebab penurunan daya beli konsumen, ada hal menarik yang masih jarang dibicarakan di publik, kecuali di forum-forum tertentu seperti pada forum fintech Indonesia.

Ternyata Ada Fenomena Menarik Dari Penurunan Daya Beli Konsumen

Indonesia memasuki era digital. Perusahaan startup digital meroket menjadi raksasa bisnis dengan investasi triliunan rupiah. Banyak perusahaan besar yang tidak sanggup bersaing dengan perusahaan digital tersebut. Contohnya, Foodpanda dan Seven Eleven, mereka menghadapi persaingan yang dahsyat dari GoFood dan GrabFood.

Perubahan lanskap di pasar terjadi seiring dengan perubahan kebiasaan konsumen. Ini masalah perubahan perilaku pasar. Yang sebelumnya konsumen susah payah ke toko atau ke mall untuk belanja, kini mereka cukup order barang melalui aplikasi digital.

Kita tidak akan pernah memahami apa sesungguhnya penyebab penurunan daya beli konsumen jika kita mempertimbangkan “disruptive tehcnologies” yang telah terjadi di Indonesia. Perubahan cara konsumen dalam mendapatkan sesuatu tentu akan menurunkan penjualan bisnis yang belum melakukan transformasi digital.

Dilain sisi, pebisnis yang telah melakukan transformasi digital, katakanlah pedagang makanan yang berafiliasi dengan GoFood dan GrabFood, mereka menikmati era “Penurunan Daya Beli Konsumen” yang unik ini. Para konsumen kini telah dimanjakan dengan cara beli makanan dengan ribuan pilihan menu, melalui ujung jari mereka.

Disamping itu, pembayaran dapat dilakukan melalui saldo dompet digital yang disediakan GoJek (GoPay) dan GrabPay. Ini juga akan menurunkan frekuensi orang untuk berkunjung ke ATM. Disini kita dapat pahami bahwa transformasi digital bermanfaat untuk penyederhanaan proses dan dapat menghemat banyak biaya operasional pada segala sektor.

Penurunan daya beli konsumen ini akan terlihat berakhir setelah banyak perusahaan yang melakukan transformasi digital. Perubahan ini perlu dilakukan oleh seluruh sektor. Sebagai contoh, sebuah pabrik kendaraan bermotor dapat bekerjasama dengan Gojek dan GrabBike untuk penjualan kendaraan. Dilain sisi, perusahaan finance dan leasing akan semakin kehilangan pangsa pasar, namun banyak masyarakat dan pebisnis yang diuntungkan.

Apalagi jika produsen kebutuhan pokok sudah banyak yang melakukan transformasi digital. Tentunya kita aka dapat melihat peningkatan daya beli masyarakat. Sebab, dengan dorongan dari sektor kebutuhan pokok, pergerakan makro eknomi mulai dapat terlihat jelas.

Fenomena penurunan daya beli konsumen ini ibarat menenggelamkan pelampung, jika sudah matang maka akan teradi rebound. Momentum tersebut akan terjadi setelah banyak perusahaan yang melakukan transormasi digital.

Bisnis Wajib Melakukan Transformasi Digital

Para ahli, pengamat, dan praktisi dunia sependapat, bahwa:

“Bisnis yang lambat atau tidak melakukan transformasi digital akan tutup”

Ini memang sebuah “paksaan” dalam konsekwensi bisnis. Kita bisa lihat dari tutupnya gerai seven eleven. Bukan berarti Seven Eleven tidak melakukan transformasi digital, akan tetapi terlambat atau kurang cepat. Ini akan beda yang terjadi jika Seven Eleven cepat bekerjasama dengan Gojek atau GrabFood.

Transformasi digital juga berarti harus berkolaborasi dan terintegrasi dengan aplikasi dari bisnis lain. Dengan cara ini, Seven Eleven dapat menghemat banyak biaya operasional mereka ketimbang dengan membuka gerai baru.

Disini kita dapat melihat bahwa Gojek dan GrabBike yang sebelumnya dipandang hanya sebagai perusahaan digital penyedia aplikasi jasa transportasi online, mulai menjadi pemimpin pasar dalam hal pesan antar makanan. Sangat memungkinkan Gojek dan GrabBike akan menjadi pemimpin pasar pada berbagai sektor bisnis.

Ini artinya, seluruh perusahaan besar apapun sektor bisnisnya, harus bertransformasi secepatnya sebagai perusahaan digital. Ini perlu dilakukan agar dapat mempertahankan bisnis dan tetap menjadi pemimpin pasar.

Untuk melakukan transformasi digital, perusahaan memerlukan infrastruktur IT yang kuat sebagai pondasi dasar dari transformasi digital. Banyak perusahaan yang mengalami”cegukan-teknologi” ditengah proses transformasi digital. Tentunya hal ini akan sangat tidak efisien baik dari sisi biaya, waktu, kinerja karyawan dan perkembangan bisnis.

Pengusaha di Indonesia, banyak yang berawal dari perusahaan keluarga. Kini, mereka sudah banyak yang sadar untuk melakukan transformasi digital. Kecepatan ke pasar merupakan inti dari transformasi digital. Oleh karena itu, saatnya sekarang untuk menghubungi konsultan IT untuk memperkuat teknologi informasi anda.

Views All Time
Views All Time
48
Views Today
Views Today
1
Igen

Author: igen

Blogger, SEO, SEM, Digital Marketing

Share This Post On

Submit a Comment

Share This