Nikmat Dunia Yang Menipu

Abu Wafa’ bin Aqil bertutur,

“Waspadalah dan jangan tertipu! Maka sesungguhnya, tangan dipotong karena tiga dirham, hukuman cambuk ditimpakan lantaran seteguk khamar (minuman keras), perempuan dimasukan neraka sebab seekor kucing, jubah berubah menjadi nyala api membakar orang yang mengkhianatinya meski ia mati syahid.”

Diriwayatkan sebuah hadits marfu oleh Imam Ahmad, dari Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Sulaiman bin Maisarah, dari Thoriq bin Syihab bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

“Seseorang masuk surga karena perkara seekor lalat.”

para sahabat lalu bertanya,

“Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”

Nabi Muhammad (S.A.W) menjawab,

“Dua orang orang melewati kaum yang memiliki berhala. Bagi siapa saja yang melewati wajib memberikan pesembahan bagi berhala itu. salah satu dari antara keduanya mengatakan kepada yang lain, “Berikanlah persembahan walaupun seekor lalat!”

Ia lalu mempersembahkan seekor lalat. Maka, kaum itu pun membiarkannya pergi. sebab itulah, ia masuk neraka. Selanjutnya, kaum itu menyuruh orang yang satunya,

“Berikanlah persembahan!”

Ia menjawab,

“Aku tidak akan memberikan persembahan kepada sesuatu apa pun kecuali kepada Allah swt.”

Kaum itu lalu memenggal lehernya, dan ia kemudian masuk surga. Satu kalimat yang diucapkan hamba (yang pertama tadi) dapat menghantarkannya ke neraka yang jaraknya lebih jauh dibanding timur dan barat.”

Kadang-kadang, orang bisa tertipu akan nikmat-nikmat Allah swt. yang ia lihat di dunia. Ia mengira bahwa itu adalah wujud kecintaan Allah swt. Kepadanya, dan ia juga mengira akan diberi nikmat-nikmat yang lebih dari itu kelak di akhirat. Ini adalah termasuk tipu-daya.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Yahya bin Ghailan, dari Rasyd bin Sa’d, dari Harmalah bin Imran al-Najibi, dari Uqbah bin Muslim, dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi saw. bersabda,

“Jika kamu melihat Allah swt. memberi hamba apa-apa yang ia sukai dari perkara dunia, sementara ia bergelimang maksiat maka karunia itu hanyalah Istidraj (pemberian yang disertai murka.)”

Nabi saw. lalu membacakan firman Allah swt.:

“Maka, tatkala mereka melupakan peringtan yang telah diberikan kepada mereka, kami membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka, ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Sebagian Ulama salaf berkata,

“Jika kamu melihat Allah memberikan nikmat kepadamu, namun engkau masih tetap dalam kemaksiatan terhadap-Nya maka berhati-hatilah! pemberian itu hanya merupakan istidraj dari-Nya.”

Allah swt. berfirman:

“Dan, sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tanga (perak) yang mereka naiki. Dan, (kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan, (kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Allah swt.Juga telah membantah orang yang berprasangka demikian dengan firman-Nya:

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia akan bertakwa, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya, kamu tidak memuliakan anak yatim.”

Dengan kata lain, setiap orang yang aku berikan nikmat dan aku lapangkan rezekinya buka berarti aku memuliakannya.

Dan sebaliknya, setiap orang yang aku uji dan aku sempitkan rezekinya bukan berarti aku menghinakannya.

Bahkan, bisa jadi aku menguji seseorang dengan limpahan nikmat dan aku memuliakan seseorang dengan ujian.

Dalam Jaami’ at-Tirmidzi, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya, biasa saja Allah swt. Memberikan kenikmatan dunia bagi orang yang dia kasihi dan bagi orang yang tidak dia kasihi. Tetapi, Allah swt. tidak akan mengkaruniakan iman kecuali kepada orang Dia kasihi. “

Sebagian Ulama salaf berkata,

“banyak orang tidak sadar bahwa ia di jerumuskan dengan limpahan kenikmatan Allah swt. Banyak orang yang tidak sadar bahwa ia terlena dengan pujian manusia. Banyak juga orang yang tidak sadar bahwa ia tertipu dengan hijab Allah swt.”

Views All Time
Views All Time
269
Views Today
Views Today
2
Syam Suri

Author: Syam Suri

Share This Post On

1 Comment

  1. Garett PHG

    Yes. Itulah mengapa harus adanya hukum islam. Mengenal apa itu Haram, Makruh. —, Sunnah, dan Halal.

    Juga, kita tidak hidup kekal di dunia dan tidak tahu kapan kematian menjemput.

Submit a Comment

Pin It on Pinterest

Share This