Mencintai Para Wali dan Orang-orang Salih

Apabila engkau menghendaki kerajaan di dunia dan di akhirat, hendaklah engkau menjadikan seluruh dirimu hanya untuk Allah Azza wa Jalla, sehingga engkau akan menjadi pemimpin atas dirimu sendiri dan atas orang lain. Sesungguhnya saya menasihatimu, karena itu, hendaklah engkau menerima nasihat ini. Sungguh, saya telah bersikap jujur kepadamu, karena itu, akuilah dan benarkan saya. Jika saya menuduhmu berdusta dan engkau pun menuduh dusta, berarti engkau telah berdusta dan sesungguhnya kedustaan ada pada dirimu. Jika saya membenarkan dan engkau juga membenarkan, berarti engkau benar atau jujur dan kejujuran, ada pada dirimu; seperti halnya jika engkau beragama, engkau akan semakin dekat. Oleh karena itu, hendaklah engkau mengambil dari saya obat untuk penyakit agamamu dan gunakanlah obat itu, niscaya akan datang kesembuhan. Barangsiapa yang maju, maka mereka akan mengelilingi timur dan barat untuk mencari para wali dan orang-orang salih, yang mereka itu adalah dokter hati dan agama. Apabila salah seorang di antara mereka berhasil menemuinya, mereka akan meminta obat bagi penyakit agamanya.

Jika saat itu engkau membenci para fukaha, ulama, dan wali yang berpendidikan dan terpelajar, sudah pasti engkau tidak akan mendapat obat untuk penyakitmu. Apakah ilmu saya berguna dan pengobatan saya berguna bagimu? Setiap hari saya membangun fondasi bagi dirimu, sementara engkau sendiri malah meruntuhkannya. Saya telah meracik obat untuk penyakit dalam dirimu, tetapi engkau tidak pernah mnggunakannya. Saya berkata denganmu, “Janganlah engkau memakan makanan ini karena di dalamnya ada racun. Dan, makanlah yang ini karena di dalamnya ada obat.” Kemudian engkau mengingkari ucapan saya dan malah memakan makanan yang beracun, Tidak lama lagi hal itu akan tampak dalam pembangunan agama dan imanmu.

Saya menasihatimu dan saya tidak takut dengan pedang yang kau miliki. Saya pun tidak menghendaki emas yang kau miliki. Brangsiapa yang selalu berada bersama Allah Azza wa Jalla, dia tidak akan merasa takut oleh seseorang secara umum; dia tidak akan takut kepada jin dan tidak akan taku kepada manusia; dia tidak akan takut kepada binatang-binatang di bumi, baik yang melata atau binatang buas; dan dia tidak akan takut kepada segala makhluk.

Oleh karena itu, janganlah menyakiti para guru atau para ulama yang beramal dengan ilmunya. Jika berlaku demikian, engkau adalah orang-orang yang bodoh terhadap Allah Azza wa Jalla, para Rasul-Nya, serta para hamba-Nya yang salih yang selalu bersama-Nya dan rela terhadap segala perbuatan-Nya. Semua keselamatan bergantung pada keridhaan terhadap qadha, memperpendek angan-angan, dan zuhud dalam urusan dunia. Apabila engkau melihat dalam dirimu ada kelemahan, , maka kemuliaanmu adalah ┬ádengan mengingat mati dan memperpendek angan-angan. Rasulullah saw. bersabda dengan makna dari Allah Azza wa Jalla, “Orang yang ber-taqarrub kepada-Ku tidaklah lebih utama taqarrub-nya daripada orang yang melaksanakan apa yang aku fardhukan kepada mereka. Hamba-Ku senantiasa ber-taqarrub kepada-Ku dengan bermacam-macam ibadah sunat sehingga aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya maka baginya aku mendengar, melihat, dan menolong. Dengan sebab aku, dia mendengar, melihat, dan kuat.”

Dia melihat semua perbuatannya dengan pertolongan Allah. dengan pertolongan-Nya dia keluar dari kekuasaannya, kekuatannya, dan mampu melihat darinya dan orang lain. Kemudian, dia juga bisa melihat gerakan, kekuasaan, dan kekuatannya dengan pertolongan Allah; bukan dengan pertolongan dirinya sndiri dan juga bukan dengan pertolongan makhluk lainnya. Dia mengasingkan diri, dunia, dan akhiratnya. semua itu adalah ketaatan sehingga sudah pasti taqarrub-nya adalah ketaatannya; dan menjadi sebab Allah SWT mencintainya.

Dengan ketaatan, dia mencintai dan dekat dengannya. Dengan ketaatan dia akan menghasilkan keramahan. Dengan kemaksiatan dia akan menghasilkan kebuasan. Sebab, barangsiapa yang berbuat keburukan maka dia akan merasa buas. dengan mengikuti syariat dia akan mendapatkan kebaikan. karena itu bertentangan dengan syariat, maka dia akan mendapatkan keburukan. Barangsiapa yang tidak menjadikan syariatsebagai temannya dalam segala keadaan, maka dia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang celaka. Oleh karena itu, hendaklah engkau beramal dan bersungguh-sungguh dalam amalmu. Janganlah engkau menyombongkan dirimu dengan amal, karena yang tidak beramal adalah orang yang tamak. Sedangkan orang yang bersombong dengan amal adalah orang yang ujub serta tertipu. Ada segolongan orang yang berdiri di antara dunia dan akhirat; segolongan yang lain berdiri di antara surga dan neraka; dan segolongan yang lain berdiri di antara makhluk dan khalik.

Apabila engkau termasuk orang yang zuhud maka engkau berdiri di antara dunia dan akhirat. Jika engkau termasuk orang yang takut maka engkau berdiri di antara surga dan neraka. Jika termasuk orang yang makrifat maka engkau berdiri di antara makhluk dan khalik. Suatu waktu engkau melihat kepada makhluk dan pada waktu yang lain engkau melihat kepada khalik. Engkau mencapai manusia dan engkau mengenal keadaan mereka di akhirat, perhitungan (Hisab)-nya, dan semua yang ada di akhirat. Bahkan engkau memberitahukan apa yang telah engkau saksikan dan engkau lihat. Kabar itu tidak berarti seperti yang terlihat. Kaum muslim menunggu untuk bisa bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. mereka mengharapkannya pertemuan itu di setiap waktu. Mereka tidak takut terhadap kematian, karena kematian adalah sebab untuk bertemu kepada Yang dicintainya.

Hendaklah engkau berpisah sebelum engkau dipisahkan; meninggalkan sebelum ditinggalkan; berpindah sebelum keluargamu serta seluruh makhluk memindahkanmu. mereka tidak mendapat manfaat darimu jika engkau telah berada di alam kubur. Hendaklah engkau bertobat dari perolehan sesuatu yang mubah dengan syahwat.

Hendaklah kaum muslim menjauhi kemaksiatan dalam segala situasi. Menjauhi perbuatan maksiat adalah seperti pakaian agama. Oleh karena itu, engkau dapat mencari pakaian agamamu dari saya. engkau bisa mengikuti saya karena saya tetap berada dalam kebaikan Rasulullah saw. Saya adalah pengikut beliau, dalam makannya, minumnya, nikahnya, dan segala tingkah-lakunya. Saya senantiasa seperti itu hingga saya bisa menyesuaikan diri dengan kehendak Allah Azza wa Jalla sehingga saya tetap pada keadaan yang demikian. saya tidak pernah memikirkan pujian dari Allah Azza wa Jalla. Saya juga tidak pernah memikirkan pujian ataupun cacian darimu; tidak juga pemberian atau penolakanmu; tidak juga kebaikan atau kejahatan; serta apakah engkau menghadap atau membelakangi saya. Engkau adalah orang bodoh, dan orang bodoh tidak akan pernah peduli. Apabila engkau orang yang beruntung, dan engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, maka ibadahmu akan tertolak. Sebab, ibadahmu itu di sertai kebodohan, dan semua kebodohan itu merusak. Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang beribadah karena Allah Azza wa Jalla disertai kebododohannya, maka ibadah yang rusak lebih banyak dibanding ibadah yang baik.”

Engkau sama sekali tidak akan mendapat keuntungan, sampai engkau mengikuti Alqur’an dan Sunnah.

Sebagian ulama berkata,“Barangsiapa yang tidak mempunyai guru maka iblis akan menjadi gurunya.”

Oleh karena itu, ikutilah guru yang memiliki kepandaian tentang Alqur’an dan Sunnah serta mengamalkannya, dan hendaklah engkau berbaik sangka kepada mereka. Belajarlah dari mereka, serta bersikap baiklah dalam etika terhadap mereka dan dalam bergaul dengan mereka sehingga engkau menjadi orang yang beruntung. Apabila engkau tidak mengikuti Alqur’an dan Sunnah, dan juga tidak mengikuti para guru yang arif, maka selamanya engkau tidak akan menjadi orang yang beruntung. Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa barangsiapa yang merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, niscaya dia akan tersesat. Oleh karena itu, hendaklah engkau mendidik dirimu sendiri dengan selalu bersahabat bersama orang yang lebih pandai darimu. Hendaklah engkau menyibukkan dirimu dengan selalu memperbaiki diri, setelah itu berpindahlah engkau kepada orang lain untuk memperbaikinya. Nabi saw. bersabda,“Mulailah dari dirimu kemudian dari keluargamu.”

Beliau juga bersabda,“Tidak ada sedekah (kepada orang lain) sementara keluarganya sendiri membutuhkannya.”

Views All Time
Views All Time
250
Views Today
Views Today
2
Syam Suri

Author: Syam Suri

Share This Post On

Submit a Comment

Pin It on Pinterest

Share This