Dilema Jualan Kuliner Online via Aplikasi Berkomisi 20%

Pada awal tahun 2017, jualan kuliner online via platform walau dengan komisi 20% telah menjadi booming. Pasalnya, masih banyak promo yag diberikan oleh platform kepada para pengguna aplikasi. Bayangkan, produk makanan senilai Rp. 100.000 dengan promo diskon 45% jadi hanya Rp. 55.000 saja.

Namun, seiring berjalan dengan waktu dan dengan logika pertimbangan bisnis, penyedia aplikasi juga harus mengambil keuntungan. Promo tersebut lambat laun mengecil dan semakin mengecil, bahkan lama kelamaan bisa hilang sama sekali seperti yang terjadi di tahun 2021 ini.

Hal ini tentu menimbulkan pergeseran perilaku konsumen atau pelanggan para bisnis kuliner. Mari kita bahas masalah ini secara mendalam.

Kenapa Jualan Kuliner Online via Aplikasi, Dari Booming bisa menjadi Dilema?

Dari sebelumnya booming karena banyak diskon yang menguntung para konsmen, kini menjadi dilema.

Tanpa adanya diskon, maka ini artinya konsumen kena harga lebih mahal 20%.

Misal, Anda yang biasanya beli 2 nasi Padang di RM Sederhana yang kalau telepon langsung ke restorannya, hanya Rp. 90.000,-. Lantas, jika menggunakan aplikasi terkena charge 20% maka jadi Rp. 108.000,-.

Sewaktu ada promo, tentu sebagaui konsumen maka akan lebih menguntungkan jika membeli Nasi Padang via aplikasi. Akan tetapi ketika tidak ada promo maka pembelian via aplikasi akan jadi lebih mahal dan pada akhirnya orang akan memilih untuk membeli langsung dengan menelepon rumah makan tersebut.

Berdasar hal tersebut, maka akan ada sebuah pergeseran yang terjadi.

Sebetulnya, ini saya alami sendiri sebagai konsumen. Biasa beli Richeese karena enak dan ada diskonnya. Akan tetapi ketika tidak ada diskon dari aplikasi, lebih baik kami order melalui contact center makanan cepat saji tersebut.

Untuk perusahaan sebesar Richeese Factory, tentu tidak ada masalah menyediakan contact center dan pengantaran. Namun untuk pelaku bisnis kuliner yang masih tergolong bisnis kecil, hal tersebut akan menjadi dilema.

Lantas, bagaimana solusinya? 

Solusi Jualan Kuliner Online Tanpa Aplikasi

Pada dasarnya, apa yang bisnis kuliner lakukan dengan bergabung pada penyedia aplikasi tersebut merupakan aktivitas online. Sebetulnya, jualan kuliner online tidak selalu harus bergantung pada penyedia aplikasi, Anda dapat membuat website toko online untuk bisnis kuliner. Banyak kelebihan pada website toko online dibanding aplikasi yang dapat mendukung jualan kuliner online Anda.

Awalnya mungkin Anda akan berpikir, “Apa ya bisa seramai jualan di aplikasi?”. Ini merupakan pertanyaan umum ketika ingin berlepas dari “ketergantungan” dalam berjualan via aplikasi.

Memang, pengguna aplikasi ramai. Dan ini memang tantangannya, Anda harus dapat meramaikan website toko online yang untuk penjualan makanan dan minuman.

Untuk meramaikan bisnis online, Anda dapat mengerahkan upaya pemasaran digital untuk bisnis kuliner Anda. Seperti dengan melakukan promosi, iklan pada saluran digital. Anda dapat mengalihkan “Biaya” komisi 20% yang akan terpotong dari omset Anda ketika berjualan via aplikasi.

Misal, omset per bulan bisnis kuliner mencapai Rp. 100 juta. Maka, biaya komisi untuk penyedia aplikasi Rp. 20 juta per bulan. Anda dapat gunakan Rp. 20 juta per bulan tersebut untuk:

  • Biaya manajemen website Rp. 1.5 juta per bulan.
  • Iklan di Google, FB, dan Instagram Rp. 2 juta per bulan.
  • Biaya infrastruktur website Rp. 1 juta per bulan.

Totalnya hanya Rp. 4.5 juta per bulan. Sedangkan harga makanan dan minuman Anda lebih rendah ketimbang jualan via Aplikasi. Tentu konsumen Anda akan senang.

Yakinlah, pergeseran perilaku konsumen akan terjadi. Mereka yang tadinya biasa beli karena ada diskon promo, lidah mereka sudah merasa cocok dengan masakan Anda maka mereka tetap akan membeli dari Anda, hanya saja mereka akan mencari cara agar tidak melalui aplikasi.

Oleh karena itu, pada titik ini .. Anda harus menyediakan saluran penjualan online tanpa aplikasi, yakni dengan menggunakan website toko online.

Lantas, bagaimana jualan kuliner online pakai website toko online? 

Toko Online untuk Jualan Kuliner

Sebuah penyedia jasa website bernama KiosMaya.Com menyediakan website toko online yang dapat digunakan untuk penjualan online bisnis kuliner. Sebagai catatan: Produk toko online untuk penjualan kuliner tersebut masih disiapkan, kemungkinan akan hadir pada akhir Februari 2021 atau awal Maret 2021.

Berikut beberapa fitur yang dapat disediakan oleh toko online KiosMaya:

  1. Online ordering dari perangkat mobile, seperti pada aplikasi hanya saja tidak perlu download aplikasi.
  2. Biaya kirim berdasar jarak. Anda tetap dapat menggunakan ojek online untuk pengantaran, ojek pangkalan atau menggunakan karyawan pengantaran sendiri.
  3. Pembayaran otomatis dan lebih banyak pilihan pembayaran. Anda dapat menggunakan Ovo, Shopeepay, Bank virtual account, dan pembayaran via kartu.
  4.  Notifikasi via e-mail di ponsel Anda. Ketika ada orderan masuk, maka Anda akan menerima e-mail di ponsel mengenai pesanan dan alamat kirim.
  5. Koneksi bluetooth printer. Anda dapat cetak nota pesanan melalui printer thermal yang terkoneksi via bluetooth di ponsel Anda.

Selanjutnya, Anda tinggal pesan ojol untuk antar pesanan atau menggunakan ojek pangkalan sekitaran lokasi bisnis Anda.

Bedanya hanya terletak pada tracking order, ini yang belum ada. Namun, Anda sudah menyediakan saluran penjualan online yang bebas komisi 20%.

Kalau untuk meramaikan orderan, Anda dapat juga menggunakan jasa periklanan digital yang tersedia dalam paket tahunan (bayar bulanan). Demikian untuk upload menu baru, update menu, dan adakan promo khusus, Anda dapat serahkan semuanya melalui jasa pembuat website toko online tersebut. Sehingga Anda dapat lebih berfokus pada bisnis kuliner Anda tanpa harus pusing dengan masalah website dan pemasaran online.

Kesimpulan:

Percayalah, biaya menggunakan website toko online berikut promosi secara online akan jauh lebih murah ketimbang “membayar” biaya komisi 20%. Anda hanya memerlukan tidak sampai 1/3 dari biaya komisi 20 juta.

Dengan Rp. 4.5 juta per bulan, ini artinya hanya sekitar 4.5% dari omset. Sedangkan bisnis kuliner biasanya memiliki margin omset sebesar 30% hingga 40%. Maka biaya 4.5% tersebut sangat layak ketimbang Anda harus keluarkan 20% dan lama kelamaan tidak ada pembeli ketika terus mengandalkan penjualan via aplikasi.

Keputusan ada pada Anda selaku pemegang kendali bisnis Anda sendiri. Jika ingin tetap bertahan, maka Anda harus “Baca Ombak” dan bersiap dengan antisipasi untuk dapat selalu beradaptasi pada perubahan eksternal seperti pergeseran perilaku konsumen online.

Jangan terlambat ambil keputusan, segera atasi dilema yang akan terjadi ketika promo aplikasi semakin jarang tersedia untuk pengguna.

Semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat untuk pelaku bisnis kuliner khususnya di Jakarta, umumnya di Indonesia.

Views All Time
Views All Time
82
Views Today
Views Today
3
Rachmad Igen

Author: Rachmad Igen

Blogger, Social Media Marketing, Search Engine Marketing. Chartered Certified Digital Marketing Consultant.

Share This Post On

Submit a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pin It on Pinterest

Share This