Nikmat Dunia Yang Menipu
Feb21

Nikmat Dunia Yang Menipu

Abu Wafa’ bin Aqil bertutur,

“Waspadalah dan jangan tertipu! Maka sesungguhnya, tangan dipotong karena tiga dirham, hukuman cambuk ditimpakan lantaran seteguk khamar (minuman keras), perempuan dimasukan neraka sebab seekor kucing, jubah berubah menjadi nyala api membakar orang yang mengkhianatinya meski ia mati syahid.”

Diriwayatkan sebuah hadits marfu oleh Imam Ahmad, dari Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Sulaiman bin Maisarah, dari Thoriq bin Syihab bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

“Seseorang masuk surga karena perkara seekor lalat.”

para sahabat lalu bertanya,

“Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”

Nabi Muhammad (S.A.W) menjawab,

“Dua orang orang melewati kaum yang memiliki berhala. Bagi siapa saja yang melewati wajib memberikan pesembahan bagi berhala itu. salah satu dari antara keduanya mengatakan kepada yang lain, “Berikanlah persembahan walaupun seekor lalat!”

Ia lalu mempersembahkan seekor lalat. Maka, kaum itu pun membiarkannya pergi. sebab itulah, ia masuk neraka. Selanjutnya, kaum itu menyuruh orang yang satunya,

“Berikanlah persembahan!”

Ia menjawab,

“Aku tidak akan memberikan persembahan kepada sesuatu apa pun kecuali kepada Allah swt.”

Kaum itu lalu memenggal lehernya, dan ia kemudian masuk surga. Satu kalimat yang diucapkan hamba (yang pertama tadi) dapat menghantarkannya ke neraka yang jaraknya lebih jauh dibanding timur dan barat.”

Kadang-kadang, orang bisa tertipu akan nikmat-nikmat Allah swt. yang ia lihat di dunia. Ia mengira bahwa itu adalah wujud kecintaan Allah swt. Kepadanya, dan ia juga mengira akan diberi nikmat-nikmat yang lebih dari itu kelak di akhirat. Ini adalah termasuk tipu-daya.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Yahya bin Ghailan, dari Rasyd bin Sa’d, dari Harmalah bin Imran al-Najibi, dari Uqbah bin Muslim, dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi saw. bersabda,

“Jika kamu melihat Allah swt. memberi hamba apa-apa yang ia sukai dari perkara dunia, sementara ia bergelimang maksiat maka karunia itu hanyalah Istidraj (pemberian yang disertai murka.)”

Nabi saw. lalu membacakan firman Allah swt.:

“Maka, tatkala mereka melupakan peringtan yang telah diberikan kepada mereka, kami membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka, ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Sebagian Ulama salaf berkata,

“Jika kamu melihat Allah memberikan nikmat kepadamu, namun engkau masih tetap dalam kemaksiatan terhadap-Nya maka berhati-hatilah! pemberian itu hanya merupakan istidraj dari-Nya.”

Allah swt. berfirman:

“Dan, sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tanga (perak) yang mereka naiki. Dan, (kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan, (kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Allah swt.Juga telah membantah orang yang berprasangka demikian dengan firman-Nya:

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia akan bertakwa, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya, kamu tidak memuliakan anak yatim.”

Dengan kata lain, setiap orang yang aku berikan nikmat dan aku lapangkan rezekinya buka berarti aku memuliakannya.

Dan sebaliknya, setiap orang yang aku uji dan aku sempitkan rezekinya bukan berarti aku menghinakannya.

Bahkan, bisa jadi aku menguji seseorang dengan limpahan nikmat dan aku memuliakan seseorang dengan ujian.

Dalam Jaami’ at-Tirmidzi, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya, biasa saja Allah swt. Memberikan kenikmatan dunia bagi orang yang dia kasihi dan bagi orang yang tidak dia kasihi. Tetapi, Allah swt. tidak akan mengkaruniakan iman kecuali kepada orang Dia kasihi. “

Sebagian Ulama salaf berkata,

“banyak orang tidak sadar bahwa ia di jerumuskan dengan limpahan kenikmatan Allah swt. Banyak orang yang tidak sadar bahwa ia terlena dengan pujian manusia. Banyak juga orang yang tidak sadar bahwa ia tertipu dengan hijab Allah swt.”

Read More
Manipulasi Syi’ah Terhadap Sejarah dan Kedustaan Mereka
Feb19

Manipulasi Syi’ah Terhadap Sejarah dan Kedustaan Mereka

1. Penolakan mereka terhadap Hadits-hadits Riwayat Ahlus Sunnah.

Al-Qur’an tidaklah berdiri sendiri. Ia tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan bantuan hadits-hadits Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadits adalah sumber kedua dalam Islam dan berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Qur’an. Siapa yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur’an dan tidak merujuk kepada hadits, maka tidak diragukan lagi ia telah sesat sejauh-jauhnya.

Para ulama telah bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah saw tersebut dan membukukannya. Dengan itulah Allah swt menjaga Sunnah Rasul-Nya sebagaimana dia telah menjaga al-Qur’an yang mulia. Kedua-duanya dijaga oleh Allah swt agar agama-Nya tetap sempurna dan hujjah-Nya tetap tegak.

Tetapi Syi’ah tidak mengakui dan tidak menerima Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Kitab-kitan Sunan lainnya karena para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits di dalam kitab-kitab tersebut tidak mereka percayai bahkan mereka kafirkan .

2. Hadits-hadits Mereka Tidak Dapat Diterima dan Penuh Kedustaan.

Syi’ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi saw. kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait.

Mereka tidak memperhatikan ke shohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi’ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai.

a. Tentang tafsir Surah an-Nisa’ ayat 59 yang berbunyi:

“Hai Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikin itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).

Khazzaz (seorang ulama Syi’ah) dalam kifayat al-Atsar-Nya menafsirkan makna ulil amri pada ayat di atas dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Anshori r.a.

Ketika ayat tersebut diturunkan Jabir bertanya kepada Nabi saw, “Kami tahu Allah dan Nabi namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya telah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi saw bersabda, “Mereka para Kholifahku dan Imam bagi kaum muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali kemudian Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat.

Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) Oleh putranya Ja’far Shodiq, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan sama dengan julukanku. Dialah bukti Allah (hujjatullah) dimuka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyyatullah) untuk memelihara akar keimanan diantara manusia. Dia akan menaklukan seluruh dunia dari timur hingga barat

Sumber: buku dari Zaenudin

Read More
Mencintai Para Wali dan Orang-orang Salih
Feb08

Mencintai Para Wali dan Orang-orang Salih

Apabila engkau menghendaki kerajaan di dunia dan di akhirat, hendaklah engkau menjadikan seluruh dirimu hanya untuk Allah Azza wa Jalla, sehingga engkau akan menjadi pemimpin atas dirimu sndiri dan atas orang lain.

Sesungguhnya saya menasihatimu, karena itu, hendaklah engkau menerima nasihat ini. Sungguh, saya telah bersikap jujur kepadamu, karena itu, akuilah dan benarkan saya.

Jika saya menuduhmu berdusta dan engkau pun menuduh dusta, berarti engkau telah berdusta dan sesungguhnya kedustaan ada pada dirimu. Jika saya membenarkan dan engkau juga membenarkan, berarti engkau benar atau jujur dan kejujuran, ada pada dirimu; seperti halnya jika engkau beragama, engkau akan semakin dekat.

Oleh karena itu, hendaklah engkau mengambil dari saya obat untuk penyakit agamamu dan gunakanlah obat itu, niscaya akan datang kesembuhan.

Barangsiapa yang maju, maka mereka akan mengelilingi timur dan brat untuk mencari para wali dan orang-orang salih, yang mereka itu adalah dokter hati dan agama.

Apabila salah seorang diantara mereka berhasil menemuinya, mereka akan meminta obat bagi penyakit agamanya.

Jika saat ini engkau membencu para fukaha, ulama, dan wali yang berpendidikan dan terpelajar, sudah pasti engkau tidak akan mendapat obat untuk penyakitmu. Apakah ilmu saya berguna dan pengobatan saya berguna bagimu?

Setiap hari saya membangun fondasi bagi dirimu, sementara engkau sendiri malah meruntuhkannya. Saya telah meracik obat untuk penyakit dalam dirimu, tetapi engkau tidak pernah menggunakannya.

Saya berkata kepadamu,

“Janganlah engkau memakan makanan ini karena di dalamnya ada racun. Dan, makanlah yang ini karena di dalamnya ada obat. “

Kemudian engkau mengingkari ucpanan saya  dan malah memakan makanan yang beracun. Tidak lama lagi hal itu akan tampak dalam pembangunan agama dan imanmu.

Saya menasihatimu dan saya tidak takut dengan pedang yang kau miliki. Saya pun tidak menghendaki emas yang kau miliki.

Barangsiapa yang selalu bersama Allah Azza wa Jalla, dia tidak akan merasa takut oleh seseorang secara umum; dia tidak akan takut kepada jin dan tidak akan takut kepada manusia; dia tidak akan takut kepada binatang-binatang di bumi, baik yang melata atau binatang buas; dan dia tidak akan takut kepada segala makhluk.

Oleh karena itu, janganlah menyakiti para guru dan para ulama yang beramal dengan ilmunya.

Jika berlaku demikian, engkau adalah orang-orang yang bodoh terhadap Allah Azza wa Jalla, para Rasul-Nya, serta para hamba-Nya yang salih yang selalu bersama-Nya dan rela terhadap segala perbuatan-Nya.

Semua keselamatan bergantung kepada keridhaan terhadap qadha, memperpendek angan-angan, dan zuhud dalam urusan dunia.

Apabila engkau melihat dalam dirimu ada kelemahan, , maka kemuliaanmu adalah dengan mengingat mati dan memperpendek angan-angan.

Rasulullah saw. bersabda dengan makana dari Allah Azza wa Jalla,

“Orang yang ber-taqarrub kepada-Ku tidaklah lebih utama taqarrub-nya daripada orang yang melaksanakan apa yang aku fardhukan kepada mereka. Hamba-Ku senantiasa ber-taqarrub kepada-Ku dengan bermacam-macam ibadah sunah sehingga aku mencintainya. Apabila aku tela mencintainya maka baginya aku mendengar, melihat dan menolong. Dengan sebab aku, dia mendengar, melihat, dan kuat.”

Dia melihat semua perbuatannya dengan pertolongan Allah. dengan pertolongan-Nya dia keluar dari kekuasaannya, kekuatannya, dan mampu melihat dirinya dan orang lain.

Kemudian, dia juga bisa melihat gerakan, kekuasaan, dan kekuatannya dengan pertolongan Allah; bukan karena pertolongan dirinya sendiri dan juga bukan pertolongan makhluk lainnya; dan menjadi sebab Allah SWT mencintainya.

Dengan ketaatan, Dia mencintai dan dekat dengannya. Dengan kemaksiatan, dia murka dan menjauh dari dirinya.

Dengan ketaatan dia akan menghasilkan keramahan. Dengan kemaksiatan dia akan menghasilkan kebuasan.

Sebab, barangsiapa yang berbuat keburukan maka dia akan merasa buas. Dengan mengikuti syariat dia akan mendapatkan kebaikan.

Karena dia bertentangan dengan syariat, maka dia akan mendapatkan keburukan.

Barangsiapa yang tidak menjadikan syariat sebagai temannya dalam segala keadaan, maka dia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang celaka.

Oleh karena itu, hendaklah engkau beramal dan bersungguh- sungguh dalam amalmu.

Janganlah engkau menyombongkan dirimu dengan amal, karena yang tidak beramal adalah orang yang tamak.

Sedangkan orang yang bersombong dengan amal adalah orang yang ujub serta tertipu.

Ada segolongan orang yang berdiri di antara dunia dan akhirat; segolongan yang lain berdiri di antara surga dan neraka; dan segolongan yang lain berdiri di antara makhluk dan khalik.

Apabila engkau termasuk orang yang zuhud maka engkau berdiri di antara dunia dan akhirat.

Jika engkau termasuk orang yang tajut maka engkau berdiri di antara surga dan neraka.

Jika termasuk orang yang makrifat maka engkau berdiri di antara makhluk dan khalik.

Suatu aktu engkau melihat kepada makhluk dan pada waktu yang lain engkau melihat kepada khalik.

Engkau mencapai manusia dan engkau mengenal keadaan mereka di akhirat, perhitungan (Hisab)-Nya.

dan semua yang ada di akhirat. Bahkan engkau memberitahukan apa yang telah engkau saksikan dan engkau lihat.

Kabar itu tidak berarti seperti yang terlihat. Kaum muslim menunggu untuk bisa bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.

Mereka mengharapkannya pertemuan itu di setiap waktu. Mereka tidak takut terhadap kematian, karena kematian adalah sebab untuk bertemu kepada yang dicintainya.

Hendaklah engkau berpisah sebelum engkau dipisahkan; meninggalkan sebelum ditinggalkan; berpindah sebelum keluargamu serta seluruh makhluk memindahkanmu.

Mereka tidak mendapat manfaat darimu jika engkau telah berada di alam kubur. Hendaklah engkau bertobat dari perolehan sesuatu yang mubah dengan syahwat.

Hendaklah kaum muslim menjauhi kemaksiatan dalam segala situasi. Menjauh perbuatan maksiat adalah seperti pakaian agama.

Oleh karena itu, engkau dapat mencari pakaian agamamu dari saya. Engkau bisa mengikuti saya karena saya tetap berada dalam kebaikan Rasulullah saw.

saya adalah pengikut beliau, dalam makannya, minumnya, nikahnya, dan segala tingkah lakunya.

Saya senantiasa seperti itu sehingga saya bisa menyesuaikan diri dengan kehendak Allah Azza wa Jalla sehingga saya tetap pada keadaan yang demikian.

Saya tidak pernah memikirkan pujian dari Allah Azza wa Jalla. Saya juga tidak pernah memikirkan pujian atau cacian darimu; tidak juga pemberian atau penolakanmu; tidak juga kebaikan atau kejahatanmu; serta apakah engkau menghadap atau membelakangi saya.

Engkau adalah orang bodoh, dan orang bodoh tidak akan pernah peduli. Apabila engkau orang yang beruntung, dan engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, maka ibadahmu akan tertolak.

Sebab, ibadahmu itu disertai kebodohan, dan semua kebodohan itu merusak. Nabi saw. bersabda,

“Barangsiapa yang beribadah karena Allah Azza wa Jalla disertai kebodohannya, maka ibadah yang rusak lebih banyak dibanding ibadah yang baik.”

Engkau sama sekali tidak akan mendapat keuntungan, sampai engkau mengikutu Alquran dan Sunnah.

Sebagian Ulama berkata,

“Barangsiapa yang tidak mempunyai guru maka Iblis akan menjadi gurunya.”

Oleh karena itu, ikutilah guru yang memiliki kepandaian tentang Alquran dan Sunnah serta mengamalkannya, dan hendaklah engkau berbaik sangka kepada mereka.

Belajarlah dari mereka, serta bersikap baiklah dalam etika terhadap mereka dan dalam bergaul dengan mereka sehingga engkau menjadi orang yang beruntung.

Apabila engkau tidak mengikuti Alquran dan Sunnah, dan juga tidak mengikuti para guru yang arif, maka selamanya engkau tidak akan menjadi orang yang beruntung.

Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa barangsiapa yang merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, niscaya dia akan tersesat.

Oleh karena itu, hendaklah engkau mendidik dirimu sendiri dengan selalu bersahabat bersama orang yang lebih pandai darimu.

Hendaklah engkau menyibukkan  dirimu dengan selalu memperbaiki diri, setelah itu berpindhlah kepada orang lain untuk memperbaikinya. Nabi saw. bersabda,

“Mulailah dari dirimu kemudian keluargamu.”

Beliau juga bersabda,

“Tidak ada sedekah (kepada orang lain) sementara keluarganya sendiri membutuhkannya.”

Read More
Menundukkan Dua Nafsu Nafsu Perut Dan Nafsu Kemaluan
Feb06

Menundukkan Dua Nafsu Nafsu Perut Dan Nafsu Kemaluan

Nafsu perut termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam a.s dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya di susul dengan berbagai bencana yang banyak.

Semua itu berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut. Rasulullah saw., bersabda,

“Orang mukmin itu makan dengan satu usus, dan orang kafir itu makan dalam tujuh usus.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

“Tidaklah anak Adam mengisi bejana lebih buruk selain dari perut. Cukuplah anak Adam beberapa suapan sekedar yang bias menegakkan tulang sulbinya. Jika tidak mungkin, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Al-Baghawi).

Uqbah Ar-Rasibi menuturkan

”Aku memasuki tempat tinggal Al-Hasan yang saat itu dia sedang makan siang. Dia berkata, ”Kemarilah!”

“Aku sudah makan, hingga tak bias makan lagi,” kataku.

Dia berkata,

“Subhanallah. Adakah orang musim makan hingga dia tidak bisa makan lagi?”

Segolongan ahli zuhud ada yang makan terlalu sedikit dan sabar menghadapi rasa lapar.

Namun begitu, di bagisan terdahulu sudah kami paparkan aib kebiasaan mereka dalam masalah ini, dan bagaimana sikap yang baik dalam masalah makan dan apa yang harus ditinggalkannya karena nafsu.

Yang baik adalah seperti yang disabdakan Nabi saw,

“Sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.”

Makan secara sederhana akan menyehatkan badan dan mengusir penyakit. Caranya, makanlah selagi nafsu makan sudah bangkit dan berhentilah makan selagi makanan itu bernafsu agar engkau tetap memakannya.

Terus menurus mengkonsumsi makanan yang terlalu sedikit bisa melemahkan badan dan mengurangi kekuatannya.

Banyak orang yang makan terlalu sedikit, yang justru mengurangi kewajibannya melaksanakan yang fardhu, dan dengan kebodohannya mereka menganggap hal itu sebagai keutamaan.

Padahal yang benar tidaklah begitu. Siapa yang ingin memuji rasa lapar, hendaklah kembali kejalan pertengahan seperti yang sudah kami jelaskan di bagian terdahulu.

Cara lain untuk menundukkan nafsu perut, bahwa siapa yang terbiasa membuat perutnya kenyang, maka dia harus mengurangi porsi makanannya sedikit demi sedikit seiiring dengan perjalanan waktu, hingga sampai batas pertengahan seperti yang sudah kami isyaratkan.

Karena sebaik-baik berbagai urusan adalah yang pertengahannya.

Yang paling penting ialah mengambil sesuatu yang tidak menghambat ibadahnya dan menjadi sebab untuk mempertahankan kekuatannya, jangan sampai lapar dan jangan sampai kenyang . bila seperti itu keadaannya, tentu badannya menjadi sehat, hasrat menjadi terhimpun dan pikiran menjadi bening. Siapa yang terlalu banyak makan, tentu membuatnya mengantuk dan pikirannya menjadi lamban, karena produksi uap di dalam otaknya terlalu banyak, hingga mendidih fungsi otaknya, di samping bias mendatangkan berbagai macam penyakit.

Siapa yang sudah bisa meninggalkan sebagian nafsu hendaklah bersikap waspada, agar dia tidak terseret kepada Riya’.

Ada orang yang membeli alat penggerak nafsu lalu digantung didalam rumahnya, lalu dia berzuhud dengan menjauhi nafsu itu di dalam rumahnya, tanpa di ketahui orang lain dan menutupi zuhudnya.

Inilah perbuatan pada shiddiqin, yang menuangkan jiwanya kedalam bejana kesabaran dua kali lipat.

Sedangkan nafsu kemaluan merupakan nafsu yang tidak mungkin dihindari anak keturunan Adam, karena mempunyai dua manfaat:

  1. Mempertahankan keturunan.
  2. Agar manusia bias membandingkan kenikmatan yang dirasakannya di dunia dan kenikmatan yang bakal dirasakannya di akhirat.

Siapa yang belum merasakan kenikmatan birahinya, tentu tidak akan merindukannya.

Hanya saja jika nafsu ini tidak dikembalikan ke jalan pertengahan, tentu akan menimbulkan bencana dan cobaan yang amat besar.

Andaikata tidak ada hal ini, tentunya wanita tidak akan menjadi tali-tali setan. Dalam sebuah hadits, Nabi saw. Bersabda,

“Aku tidak meninggalkan suatu cobaan sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki selai dari wanita.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Sebagian orang yang shalih berkata,

“Andai kata ada seseorang memberiku amanat menjaga Baitul-mal, kukira aku bias memenuhi amanat itu. Tapi jika dia memberiku amanat untuk menjaga seorang wanita berkulit hitam dan aku berdekatan bersamanya hanya satu jam saja, tentu aku tidak sanggup menjaga amanat itu.”

Dari Nabi saw, beliau bersabda,

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, karena orang ketiga di antara mereka berdua adalah setan.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Meladeni nafsu kemaluan ini secara berlebih-lebihan, akan membuat hasrat seorang laki-laki hanya tertuju kepada wanita, lalu membuatnya lalai mengingat akhirat, dan bahkan bias menyeretnya kepada perbuatan cabul dan keji. Ini adalah nafsu yang paling buruk.

Cukup banyak orang yang bernafsu terhadap harta benda, kedudukan, judi, dan lain-lainnya, sehingga membuat mereka tidak kuat menahan dirinya untuk terjun ke kancahnya.

Lebih baik segera bersikap waspada selagi ada tanda-tanda untuk meladeni nafsu ini.

Sebab jika sudah ketagihan dan menjadi kebiasaan, dibutuhkan cara pengobatan yang keras, yang kadang-kadang justru tidak berhasil sama sekali.

Gambarannya adalah seperti orang yang memegang kendali hewan tunggangan sebelum memasuki kandangnya.

Begitu mudah baginya untuk menarik tali kekang itu agar hewan tunggangannya tidak masuk kandang.

Mengobati orang yang sudah terbiasa dengan nafsu, seperti hewan tunggangan yang sudah masuk kandang.

Orang yang hendak mengeluarkan hewan itu harus dapat memegang buntutnya terlebih dahulu, lalu menariknya kebelakang. Alangkah besar perbedaan antara keduanya.

Read More
Penghalang Terkabulnya Doa
Feb06

Penghalang Terkabulnya Doa

Hasil doa tidak terwujud bisa juga karna adanya penghalang, seperti makan-makanan haram, berbuat dzalim, banyaknya dosa yang mengkarat di hati, serta kelalaian serta kealpaan diri yang menguasai hati.

Diriwayatkan dalam Shahih al-Hakim dari Abu Hurairah Ra., Nabi saw bersabda, “Berdoalah kalian semua kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa akan dikabulkan. Ketahuilah, Allah tidak akan menerima doa dengan hati yang lalai, dan bermain-main.”

Doa adalah obat yang manjur yang dapat menghilangkan penyakit, akan tetapi kelalaian hati dapat melemahkan bahkan menghilangkan kemanjuran.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah itu Maha Baik, dia tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Sesungguhnya, Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa-apa yang telah dia perintahkan kepada para Rasul-Nya.”

Allah swt, berfirman:

“Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya, aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Ada seseorang melakukan perjalanan jauh hingga rambutnya menjadi kusut dan tubuhnya berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berucap, “Wahai Tuhan, wahai Tuhan!” Namun, ia selalu mengisi tubuhnya dengan perkara haram, baik makanan, minuman, dan juga pakaiannya adalah barang haram. Bagaimana mungkin doanya bisa terkabul?!

Abdullah bin Ahmad, dalam kitab al-Zuhd, menuturkan, “Suatu ketika, malapetaka menimpa Bani Israil. Mereka semua keluar untuk mencari tempat aman. Allah lalu mewahyukan kepada Nabi mereka agar menyampaikan, ‘Sesungguhnya, kalian keluar menuju bukit dengan tubuh najis. Kalian berdoa kepada-Ku seraya mengangkat tangan yang telah kalian gunakan untuk menumpahkan darah dan memenuhi isi rumah kalian dengan perkara haram. Sekarang, telah begitu besar murka-Ku kepada kalian, kalian baru mau berdoa. Kalian hanya akans semakin menjauh dari-Ku.”

Abu Dzar berkata, “Doa yang diiringi dengan kebaikan sudahlah cukup, seperti cukupnya makanan dengan garam.

Demikian artikel yang saya buat dengan sesingkat-singkatnya , Wallahu a’lam bisshawab ..

Read More
Antara Doa, Sebab, dan Akibat
Feb04

Antara Doa, Sebab, dan Akibat

Pada umumnya, yang menjadi persoalaan ialah diminta atau tidak, jika apa yang menjadi permintaan telah ditakdirkan maka itu pasti terjadi.

Sebaliknya , jika hal itu tidak ditakdirkan untuk terjadi maka diminta atau tidak, hal itu tetap tidak akan terjadi.

Tidak sedikit orang yang mengira hal ini adalah benar hingga mereka tidak mau berdoa dan menyatakan,

“Doa itu tidak ada gunanya.”

Mereka termasuk golongan orang-orang dungu dan sesat, sebab sikap dan pandangan mereka tidak kontradiktif.

Pandangan yang demikian akan memunculkan sikap menafikan segala sebab. Buktinya, coba dikatakan,

“Makan atau tidak makan, jika telah ditakdirkan kenyang dan segar, tentu itu akan terjadi. Jika ditakdirkan mempunyai anak, baik melakukan hubungan biologis atau tidak maka itu akan terwujud, dan jika tidak ditakdirkan, itu tidak akan terwujud. Oleh sebab itu, tidak perlu menikah dan seterusnya.”

Tidak mungkin manusia yang berakal akan perpandangan demikian?!

Bahkan, hewan saja digariskan untuk menjalankan sebab-sebab yang dengannya, dia bisa bertahan dan melanjutkan hidup.

Jika demikian, hewan masih lebih berakal dan lebih paham dibanding manusia yang seperti binatang atau bahkan lebih sesat.

Diantara mereka, ada yang berlagak pintar dengan mengatakan,

“Sibuk berdoa sebagian dari pada ibadah yang akan di balas oleh Allah dengan pahala tanpa membawa pengaruh apapun terkait dengan apa yang diminta.”

Baginya, berdoa atau tidak, itu sama sekali tidak berpengaruh pada terwujudnya sesuatu.

Mereka menganggap bahwa berdoa itu sama hal nya dengan diam.

Ada sebagiannya lainnya yang kelihatan lebih pintar berpendapat,

“Doa hanyalah tanda yang ditancapkan oleh Allah SWT. sebagai petunjuk atas pemenuhan kebutuhan. Ketika Allah SWT. memberikan taufik kepada hamba untuk berdoa maka itulah tanda yang menjadi petunjuk atas kebutuhannya yang akan terpenuhi. Ibaratnya, anda melihat awan hitam di musim dingin yang menjadi petunjuk bahwa hujan akan turun.”

Mereka juga berpandangan bahwa hubungan antara ketaatan dengan pahala, kekufuran dan kemaksiatan dengan siksa, semua itu hanya sebagai petunjuk akan adanya pahala dan siksa, bukan menjadi sebab adanya hukuman dan pahala tersebut.

Begitu juga, bagi mereka, penghancuran dan kondisi hancur, pembakaran dan kondisi terbakar, pembunuhan dan kematian, kesemuanya itu bukanlah sebab. tidak ada keterkaitan antara yang satu dengan yang mengiringinya. bahkan, itu hanyalah kejadian yang beriringan dan bukan hukum pengaruh sebab akibat.

Dengan demikian, mereka telah mengingkari perasaan, akal, syariat, fitrah, dan segenap orang-orang yang menggunakan akalnya.

Mereka yang menggunakan akalnya, menilai bahwa orang yang berpandangan demikian itu lucu karena sebetulnya yang benar ialah pandangan yang belum disebutkan, yaitu bahwa takdir itu ditetapkan berdasarkan banyak sebab.

Termasuk diantara sebabnya adalah doa. Takdir tidak disebabkan tanpa sebab, tetapi ia terlaksana dengan sebabnya.

Bila sebabnya dilaksanakan maka apa yang ditakdirkan akan terjadi dan apabila sebab itu tidak dilaksanakan maka ia akan lenyap.

Sama halnya dengan kenyang dan segar yang ditakdirkan sebab makan dan minum, memiliki anak sebab hubungan biologis, tanaman tumbuh sebab bibit, hewan mati sebab disembelih, masuk syurga atau neraka sebab amal. Inilah pandangan yang benar yang tidak sesuai dengan sejumlah pandangan sebelumnya.

Dalam hal ini, doa termasuk diantara sebab yang paling kuat. Apabila apa yang diminta terwujud sebab doa maka tidaklah benar jika dikatakan,

“Doa itu tiada gunanya.”

Sebagaimana tidak dapat pula dikatakan, “Makan, minum, semua gerak dan amal tidak lah berguna.” Tidak satupun sebab yang lebih ampuh dan lebih bisa mewujudkan permintaan daripada doa.

Oleh karena itu, para sahabat Nabi saw bersabda,

“Semoga Allah meridhai mereka.”

Merupakan generasi ummat yang paling mengenal Allah dan Rasul-Nya dan yang paling mengerti tentang agama, mereka adalah yang paling teguh berdoa dengan memenuhi syarat juga tata kramanya daripada generasi lainnya.

Sahabat Umar ra. meraih kemenangan atas musuhnya dengan doa. Padahal, kekuatan bala tentara musuhnya itu jauh lebih lebih besar.

Ia berkata kepada para sahabatnya,

“Kemenangan kalian bukan karena banyaknya jumlah, tetapi kalian mendapatkan kemenangan dari langit.”

Ia juga menuturkan,

“Aku tidak merisaukan atas terkabulnya doa, tetapi yang kurisaukan adalah tekad dalam berdoa. jika kamu diilhami untuk berdoa, tentu diiringi terkabulnya.”

Seorang penyair mengungkapkan hal yang senada dengan itu dalam bait syairnya:

Tak mungkin engkau mengajariku meminta dengan segenap kemurahan-Mu.

Andai saja engkau tiada menghendaki terwujudnya harapan dan pintaku.

Barangsiapa diilhami untuk berdoa maka sungguh, doanyan akan dikabulkan. Allah SWT. berfirman:

“Dan, Tuhanmu berfirman, :Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku kabulkan bagimu…”

Dan juga:

“Dan, Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…”

Diriwayatkan dalam Imam Majah, dari Abu Hurairah Ra. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah maka Allah akan murka kepadanya.”

Ini menunjukan bahwa keridhaan Allah terletak pada sikap meminta dan ketaatan hamba-Nya. Apabila Tuhan meridhai, segala kebaikan ada didalamnya sama seperti segala bencana dan musibah yang terletak dalam murka-Nya.

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits qudsi,

“Akulah Allah, tiada Tuhan selain-Ku. Jika aku ridha, Aku berkahi, dan keberkahan-Ku tiada terbatas. Jika aku murka, Aku melaknat, dan Laknat-Ku sampai tujuh turunan.”

Akal, nash (Al-qur’an dan as-sunnah), fitrah, dan pengalaman umat dari berbagai macam bangsa dan agama telah menunjukkan bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan, mencari Ridha-Nya, kebajikan, dan berbuat baik kepada makhluk-Nya merupakan sebab terbesar yang mendatangkan setiap kebaikan. Adapun kebaikannya, merupakan salah satu sebab terbesar akan datangnya keburukan.

Tidak satu pun perkara dapat mendatangkan nikmat Allah dan menolak murka-Nyayang sebanding dengan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya, serta berbuat baik kepada makhluk-Nya.

Lebih dari seribu kali, Allah swt. telah menetapkan dalam Al-qur’an bahwa kebaikan dan kebahagiaan dunia akhirat tergantung dengan amal, sebagaimana balasan tergantung dengan syarat, dan akibat tergantung dengan sebab.

Kebaikan yang bersifat duniawi dapat dikaitkan dengan perintah syariat dengan gambaran yang sesuai, misalnya firman Allah swt:

“Maka, tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang, kami katakan kepadanya, ‘Jadilah kalian kera yang hina!”

“Maka, tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).”

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan sebab apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

“Sesungguhnya, Laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Allah swt juga menetapkan hubungan keterkaitan syarat dan balasan, seperti firman Allah swt:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu petunjuk, kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan, Allah adalah Dzat yang mempunyai karunia yang agung.”

“Dan, bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), kami benar-benar akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).”

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menjalankan zakat, maka mereka adalah sodara-sodaramu seagama…”

Adakalanya Allah menentapkan keterkaitan itu dengan menggunakan “lam ta’lil.” seperti firman-Nya:

“Supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaranorang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad [38]: 29)

“Agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (QS. al-baqarah [2]: 143).

Adakalanya Allah dengan menggunakan kay yang menunjukkan makna “Supaya”, sepertin dalam firman-Nya berikut:

“Supaya harta itu tidak beredar dikalangan orang-orang kaya saja di antara kalian.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Ada juga yang menggunakan ba dengan makna sebab, sepertin firman-Nya:

“(Azab) yang demikian itu di sebabkan perbuatan tanganmu sendiri.” (Ali Imran [3]: 182).

“(Dikatakan kepada mereka), ‘makan dan minumlah serba enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”

“Dan, berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” (QS. al-A’raaf[7]: 39).

“Itulah balasan bagi mereka sebab mereka telah kufur terhadap ayat-ayat kami.” (QS. al-Israa'[7]: 98)

Adakalanya juga dengan maf’ul li ajlih, secara tersurat maupun tersirat, seperti dalam firman-Nya:

“(Jika tak ada dua orang lelaki), boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai agar jika seorang lupa maka yang lain dapat mengingatkannya.” (QS. al-Baqarah [2]: 282).

“(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan , ‘Sesungguhnya, kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (Keesaan Tuhan).” (QS. al-A’raaf [7]: 172).

“(Kami turunkan al-Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan, “Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami.” (QS. al-An’aam [6]: 156)

Adakalanya dengan menggunkan fa’ sababiyyah yakni fa’ yang mengandung makna sebab, seperti dalam firman-Nya:

“Lalu, mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu maka (sebab itu) Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyama ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. asy-Syams [91]: 14).

“Mereka telah mendurhakai utusan Tuhan mereka, (sebab itulah) Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.” (QS, al-Haaqqah [69]: 10).

“Maka, (tetaplah) mereka mendustakan keduanya maka sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (QS. al-Mukminuun [23]: 48).

Adakalanya dengan lamma yang menunjukkan makna “Pembalasan”, seperti berikut:

“Maka, tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka.” (QS. az-Zukhruf [43]: 55)

Adakalanya inna dan konsekuensinya seperti dalam ayat berikut:

“… Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegara dalam perbuatan-perbuatan yang baik…” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 90)

“… Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat maka kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 77).

Adakalanya dengan lau laa yang menunjukkan adanya keterkaitan antara sesuatu sebelumnya dengan sesudahnya sebagaimana ayat berikut:

“Maka, kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. ash-Shaaffaat [37]: 143).

Adakalanya dengan law yang menunjukkan makna syarat.

“… Kalau saja mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentu hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka…” (QS. an-Nisaa’ [4]: 66).

Secara keseluruhan, al-Qur’an dari awal hingga akhir menjelaskan hukum hubungan balasan atas kebaikan dan keburukan, dan juga hukum alam dan sebab-sebabnya.

Bahkan, keterkaitan hukum dunia dengan akhirat dan kebaikan serta kehancuran dijelaskan juga di dalamnya bahwa semua itu berhubungan dengan sebab dan perbuatan.

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh memahami permasalahan ini dan mau menghayatinya dengan sepenuh hati, ia akan mendapatkan manfaat yang tiada terkira.

Ia tidak akan berpasrah pada takdir secara bodoh, lemah, sembrono, dan sia-sia. Jika sampai demikian, kepasrahannya menjadi kelemahannya dan kelemahannya menjadi kepasrahannya.

Orang yang benar-benar paham ialah yang menolak takdir dengan takdir, mencegah takdir dengan takdir, serta melawan takdir dengan takdir.

Tanpa itu, manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup karena sesungguhnya rasa lapar, haus, dingin, serta berbagai macam ketakutan dan kekhawatiranmerupakan bagian dari takdir.

Seluruh makhluk berusaha menolak takdir dengan takdir. Begitu juga orang yang mendapat taufiq dan petunjuk dari Allah swt.

Mereka menolak takdir siksaan akhirat dengan takdir bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Inilah hukum yang berlaku di dunia dan begitu juga kebalikannya.

Tuhan Penguasa dunia dan akhirat adalah tunggal. Kebijaksanaan-Nya juga tunggal, tiada kontradiksi ataupun pertentangan antara yang satu dengan yang lain. Hal ini sangat penting bagi orang yang mengerti dan memperhatikan takdirnya dengan benar.

Read More

Pin It on Pinterest